Travel Tips
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
Ada satu kebiasaan -kalau boleh disebut tradisi- dalam pendidikan Indonesia yang hampir tidak pernah luput dalam pergantian kepemimpinan nasional, sebut saja ganti Menteri ganti kurikulum. Setiap beberapa tahun, ruang-ruang kelas selalu sibuk menyesuaikan diri. Guru mengikuti pelatihan baru, kepala sekolah menyusun ulang dokumen satuan pendidikan, dan siswa menerima buku dengan istilah berbeda-beda. Berkat gonta-ganti kurikulum ini, kita seperti bangsa yang selalu ingin memulai dari awal dengan harapan kali ini akan lebih sempurna dari sebelumnya.
Sejak Rencana Pelajaran 1947 hingga Kurikulum 2013, dan Kurikulum Merdeka yang disisipkan materi Deep Learning oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), perubahan itu terasa seperti paradoks. Setiap kurikulum baru datang dengan visi yang seolah lebih relevan, lebih kontekstual, lebih membebaskan, tetapi direvisi disaat bersamaan.
Sebab itu, ada kelelahan yang barangkali jarang terdengar, yaitu guru sangat sering diminta adaptif dengan perubahan zaman. Sekolah terlalu sibuk menyesuaikan format, sehingga kadang lupa mencapai substansi. Kita dipaksa mengganti cara, tetapi belum pernah finish pada lintasan sebelumnya.
Menurut penulis, berawal dari kegelisahan itulah barangkali Kurikulum Cinta yang digagas Kementerian Agama ini muncul. Kurikulum Cinta ini bak oase di tengah gurun pendidikan Indonesia. Kurikulum Cinta ini diperkenalkan sebagai penegasan bahwa pendidikan agama tidak boleh hanya berhenti pada hafalan dan definisi, tetapi harus feeling, merasakan.
Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, mendedahkan bahwa inti ajaran agama itu adalah kasih sayang, dan karena itu pendidikan agama harus dibangun di atas fondasi cinta, bukan kebencian. Prof. Nasar mengingatkan bahwa Tuhan memperkenalkan diri-Nya melalui sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, bukan melalui kemarahan. Karena itu, jika pendidikan agama melahirkan sikap keras dan eksklusif, berarti ada yang keliru dalam cara kita mengajarkan agama.
Gagasan Kurikulum Cinta ini sejalan dengan pandangan Haidar Bagir yang menitikberatkan urgensi dimensi ihsan dan spiritualitas dalam pendidikan Islam. Bagi Haidar, krisis utama umat saat ini bukan karena kurangnya pengetahuan agama, tetapi kurangnya kedalaman rasa dan akhlak. Pendidikan yang hanya berhenti pada tataran fikih dan kognitif, tanpa menyentuh hati, menjadi penyebab akan kegersangan. Dari kegersangan itulah yang sering menjadi lahan subur bagi tumbuhnya pedagogi intoleran.
Kurikulum Cinta bertumpu pada satu gagasan sederhana, yaitu agama tanpa cinta kehilangan ruhnya. Gagasan ini turun menjadi -apa yang penulis istilahkan dengan- Pedagogi Cinta. Pedagogi ini pada dasarnya merupakan pendekatan yang mengarusutamakan rasa ketimbang nalar. Dalam mendidik, rasa berkontribusi dominan, sedangkan dalam pengajaran, nalar berkombinasi rasa. Pedagogi ini adalah salah satu strategi atau ikhtiar dalam mengupayakan pencegahan perundungan atau bullying dan kekerasan-kekerasan lainnya di sekolah-sekolah.
Kurikulum Cinta: Dari Being ke Loving
Yang menarik dari kurikulum ini bahwa fungsinya bukan sekadar tambahan materi, tetapi perubahan cara pandang. Dalam konteks ini, pendidikan agama tidak lagi berhenti pada knowing, tetapi bergerak menuju being dan loving. Siswa tidak cukup hanya tahu ayat kasih sayang, tetapi mereka harus belajar mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Di negeri yang beragam agama seperti Indonesia, pendekatan ini sangat penting bahkan mendesak. Polarisasi masyarakat, ketegangan identitas, hingga ujaran kebencian menunjukkan bahwa pengetahuan agama tidak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan beragama. Agama kadang dijadikan legitimasi melakukan Tindakan kekerasan. Pada titik inilah cinta menjadi fondasi.
Orang yang sungguh mencintai tidak akan mudah membenci atas nama Tuhan. Orang sungguh beragama tidak mudah memaki pemeluk agama yang berbeda atas nama kitab suci. Dan orang yang serius beragama akan menyayangi bangsanya tidak gampang merobek bendera persatuan. Pernyataan KH. Wahab Chasbullah relevan dalam konteks ini. Ia mengatakan “Nasionalisme yang ditambah bismillah itulah Islam. Islam yang dilaksanakan dengan benar pasti umat Islam akan nasionalis.” Di atas semua ini, landasannya adalah cinta.
Kurikulum Cinta membutuhkan kesetiaan. Tanpa kesetiaan, kurikulum ini hanya akan hangat di awal lalu redup kemudian terlebih ketika arah kebijakan berubah. Sebab itu, yang dibutuhkan adalah konsistensi lintas periode. Ia juga membutuhkan guru yang tidak sekadar mengajarkan cinta di papan tulis, tetapi mempraktikkannya dengan cara menegur, menilai, dan membimbing. Serta memerlukan sekolah yang menjadikan kasih sayang sebagai budaya, bukan sekadar media dan bahan ajar.
Ditarik ke dalam konteks pendidikan, kurikulum memerlukan kesetiaan. Kita kerap terjebak pada kata jargon inovasi, seolah-olah pembaruan selalu berarti mengganti. Padahal, dalam pendidikan, inovasi paling hening tapi radikal kadang justru hadir berupa keteguhan, yakni setia pada visi dan nilai.
Jika pendidikan adalah proyek peradaban, maka ia menuntut kesabaran jangka panjang. Pendidikan tidak bisa diukur hanya dengan laporan tahunan atau pergantian menteri. Kesetiaan kolektif menuntut perubahan dari pembuat kebijakan, pendidik, hingga orang tua.
Kurikulum Cinta bukan sekadar tawaran metodologis, tetapi pengingat bahwa tujuan akhir pendidikan bukan hanya melahirkan manusia yang cerdas, tetapi manusia yang perasa dan peka terhadap sesama. Pendidikan juga bukan hanya tentang generasi yang kompetitif, tetapi juga generasi yang empatik.
Syahdan. Kurikulum boleh berganti mengikuti zaman. Tetapi jika cinta benar-benar diyakini sebagai fondasi pendidikan, maka kurikulum tidak boleh ikut berganti. Ia harus tinggal, dijaga, dan dirawat. Sebab, dalam dunia yang sangat bising ini, mungkin yang paling kita butuhkan bukan lagi konsep baru, tetapi kesetiaan pada nilai yang paling mendasar, yakni cinta, cinta akan keteguhan, konsisten dan cinta pada prinsip dan visi Itu.