Travel Tips
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
Di abad ke-17, ketika kapal-kapal VOC mulai mencengkeram Nusantara dengan meriam dan monopoli, lahirlah seorang bayi bernama Muhammad Yusuf di Kerajaan Gowa. Tak ada yang menyangka bahwa bayi ini kelak akan menjadi orang yang paling ditakuti Belanda sekaligus paling dicintai di Benua Afrika.
Syekh Yusuf bukan tipikal bangsawan yang puas dengan zona nyaman. Di usia pemuda, ia merasakan "dahaga spiritual" yang luar biasa. Ia meninggalkan kemewahan istana Gowa untuk mengarungi samudra.
Jejak Langkah: Dari Makassar ke Banten, lalu ke Aceh untuk berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri. Tak puas, ia berlayar ke Yaman, Mekkah, Madinah, hingga Damaskus.
Sang Guru dari Segala Guru: Beliau mempelajari puluhan tarekat dan cabang ilmu. Di Arab, beliau dikenal dengan gelar Al-Taj Al-Khalwati (Mahkota dari Tarekat Khalwatiyah). Beliau bukan lagi sekadar murid dari Makassar, melainkan ulama internasional yang disegani di pusat peradaban Islam.
Sekembalinya ke Nusantara, ia mendapati tanah airnya dicabik-cabik penjajah. Syekh Yusuf tidak memilih diam di menara gading. Ia bergabung dengan sahabat karibnya, Sultan Ageng Tirtayasa di Banten.
Di sini, ia bertransformasi menjadi Panglima Perang. Beliau memimpin 50.000 pasukan, termasuk pasukan dari Sulawesi yang setia padanya. Syekh Yusuf mengajarkan bahwa spiritualitas tidak berarti pasif; melawan ketidakadilan adalah bagian dari ibadah. Gerilyanya begitu efektif sehingga Belanda harus mengerahkan pasukan khusus hanya untuk menangkap sang ulama ini.
Setelah ditangkap melalui tipu muslihat, Belanda membuangnya ke Sri Lanka. Namun, pengaruhnya justru makin kuat karena raja-raja Nusantara tetap mengirim surat dan upeti padanya di pengasingan. Ketakutan, Belanda membuangnya ke tempat paling jauh yang bisa mereka jangkau: Zandvliet, Cape Town, Afrika Selatan.
Belanda mengira Syekh Yusuf akan mati kesepian di sana. Mereka salah besar.
Membangun Komunitas: Di tanah gersang itu, beliau mengumpulkan para budak dan pelarian politik. Beliau membangun komunitas Muslim pertama di Afrika Selatan.
Diplomasi Iman: Beliau mengajarkan martabat pada orang-orang yang tertindas oleh sistem kolonial di Afrika.
Warisan Nama: Tempat beliau tinggal kini dinamai "Macassar" di Cape Town sebagai bentuk penghormatan abadi.