Masuk

Search

Travel Tips

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Lifestyle

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Hotel Review

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

🔔 Headline: Informasi terbaru akan selalu ditampilkan di sini • Update berita & pengumuman resmi • Selamat membaca

Balai Litbang Agama Makassar Gelar Klinik Moderasi Beragama Bersama Permabudhi

  • Like:
  • 0
  • Share:
image
Sarasehan Moderasi Beragama dalam bentuk Klinik Moderasi Beragama (MB) bersama Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) di Aula Balai Litbang Agama Makassar pada Sabtu, (09/08/2025)

Balai Penelitian dan Pengembangan Agama (Balai Litbang Agama) Makassar menggelar Sarasehan Moderasi Beragama dalam bentuk Klinik Moderasi Beragama (MB) bersama Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) di Aula Balai Litbang Agama Makassar pada Sabtu, (09/08/2025). Kegiatan berlangsung mulai pukul 13.00 WITA hingga selesai, menghadirkan narasumber Alwiyah Nur Syarif dan dipandu oleh moderator, Suzanna, dengan tujuan memperkuat pemahaman dan praktik moderasi beragama melalui diskusi interaktif lintas keyakinan.

Kegiatan ini dibuka dengan suasana hangat yang memberi ruang tidak hanya untuk dialog, tetapi juga berbagi pengalaman pribadi dan pandangan tentang kehidupan beragama. Salah satu sesi menarik adalah ketika peserta diminta menyampaikan pandangan mereka mengenai agama yang dianut dan kesalahpahaman yang sering mereka terima dari orang lain. Isu-isu seperti stigma penyembahan patung dalam agama Buddha hingga anggapan bahwa vegetarian hanya identik dengan ajaran Buddha menjadi topik yang memicu diskusi mendalam.

Narasumber juga menekankan pentingnya menjaga persatuan Indonesia dengan menghargai kesetaraan. Menurutnya, perilaku baik akan berbalas kebaikan, sehingga setiap orang perlu berusaha menjadi pribadi yang baik di mana pun berada.

Kepala Balai Litbang Agama Makassar, Saprillah, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa perbedaan pandangan antaragama sering kali muncul karena masyarakat melihat dari “kacamata” keyakinannya masing-masing. Menurutnya, toleransi bukan sekadar kunjungan ke rumah ibadah, tetapi juga bisa diwujudkan dalam aksi bersama yang produktif, seperti kegiatan bersih-bersih kota lintas agama. Ia mengingatkan bahwa menjaga nasionalisme berarti juga menjaga ruang kebebasan beribadah, dan agama dapat menjadi alat penting untuk menopang persatuan bangsa.

Sesi tanya jawab menghadirkan berbagai pandangan kritis dari peserta. Salah satunya mempertanyakan peran MB dalam mengatasi radikalisme dan ekstremisme. Dijelaskan bahwa MB lebih berperan sebagai “vaksin” sosial, menyiapkan lingkungan yang subur bagi tumbuhnya semangat kebangsaan dan moderasi, bukan sebagai obat instan. Tantangan di era digital, khususnya bagi generasi Z, juga menjadi perhatian, mengingat cara mereka mengonsumsi informasi sangat visual, cepat, dan mudah memengaruhi alam bawah sadar.

Kegiatan ini juga memperkenalkan berbagai program lanjutan seperti Visiting Class dan Moving Class yang menyasar universitas dan sekolah untuk mengenalkan konsep moderasi beragama secara langsung kepada pelajar dan mahasiswa. Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk generasi muda yang lebih terbuka, kritis, dan menghargai perbedaan.

Diakhir kegiatan, Moderator menutup acara dengan menegaskan bahwa Moderasi Beragama tidak hanya berhenti pada teori, tetapi memerlukan keterbukaan hati untuk menerima perbedaan. Suasana dialog yang hangat dan keterlibatan aktif peserta menjadi ciri khas kegiatan ini, yang diharapkan dapat memperkuat harmoni dan persaudaraan lintas iman.

Editor: Nurul Fadillah
Fotografer: Istimewa
Leave a Comment