Travel Tips
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
Makassar (BLA Makassar) -- Kegiatan Pembinaan Umum terkait indeksasi dan survei yang digelar di Aula Kantor Balai Litbang Agama Makassar, Kamis (2/4/2026), menjadi momentum penting untuk memperkuat kualitas kerja kelembagaan, khususnya dalam bidang survei dan penyusunan rekomendasi kebijakan.
Dalam kegiatan ini, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Pustrajak Penda) Kementerian Agama RI, Ahmad Zainul Hamdi, menekankan pentingnya profesionalitas dan ketepatan metodologi dalam setiap proses survei dan kajian kebijakan. Ia mengingatkan bahwa kesalahan dalam metodologi tidak hanya berdampak pada hasil, tetapi juga dapat merugikan pengambilan kebijakan di tingkat yang lebih tinggi.
“Jangan pernah melakukan survei jika itu memang tidak ditangani oleh tim yang mengkoordinasi tim expert, tim ahli yang memang ahli di bidang survei,” tegasnya.
Menurutnya, survei bukan sekadar mengumpulkan data, tetapi proses ilmiah yang harus dilakukan secara ketat dan terukur. Ia mencontohkan bahwa penentuan sampel, wilayah, hingga responden harus melalui perhitungan yang jelas dan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Jika tidak, hasil survei berpotensi tidak valid dan menyesatkan.
Dalam arahannya, Ahmad Zainul Hamdi juga menekankan bahwa peran analis kebijakan sangat strategis sebagai “backbone” dalam organisasi. Namun, peran ini harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas diri secara terus-menerus. Ia mengingatkan bahwa setiap individu tidak boleh bergantung sepenuhnya pada sistem birokrasi untuk berkembang.
“Siapapun kita jangan menggantungkan birokrasi untuk berkembang siapapun kita harus bertanggung jawab pada diri kita sendiri jangan pernah menikmati kemalasan hari demi hari,” pesannya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa seluruh kajian dan rekomendasi kebijakan harus berbasis kebutuhan stakeholder, bukan sekadar memenuhi target kinerja. Dengan pendekatan tersebut, hasil kajian diharapkan benar-benar menjadi rujukan dalam pengambilan kebijakan.
Menutup arahannya, ia optimistis bahwa jika kualitas SDM, metodologi, dan orientasi kerja dapat diperbaiki, maka keberadaan lembaga seperti Pustrajak dan Balai Litbang akan semakin dibutuhkan.
Di akhir kegiatan, Kepala Balai Litbang Agama Makassar, Muis Riadi, menyampaikan apresiasinya atas materi yang disampaikan. Ia menilai pembinaan tersebut memberikan pencerahan dan arah baru bagi penguatan kelembagaan ke depan dan berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut guna memperkuat kapasitas kelembagaan, khususnya dalam menghadapi tantangan indeksasi dan survei ke depan.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Balai Litbang Agama Jakarta, Irhason, Kepala Balai Litbang Agama Semarang, Moch. Muhaemin, serta para staf dari masing-masing satuan kerja yang ikut berpartisipasi dalam pembinaan tersebut.
Leave a Comment