Masuk

Search

Travel Tips

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Lifestyle

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Hotel Review

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

🔔 Headline: Informasi terbaru akan selalu ditampilkan di sini • Update berita & pengumuman resmi • Selamat membaca

Sarasehan Ecoteologi dan Moderasi Beragama: Menyatukan Iman dan Alam untuk Kehidupan yang Harmonis

  • Like:
  • 0
  • Share:
image
Kegiatan Sarasehan Ecoteologi & Moderasi Beragama di Gorontalo

Gorontalo (BLA Makassar) -- Di tengah maraknya isu lingkungan dan meningkatnya tantangan sosial keagamaan, para penyuluh agama di Kota Gorontalo berkumpul untuk meneguhkan kembali peran mereka sebagai agen perubahan melalui kegiatan Sarasehan Ecoteologi dan Moderasi Beragama. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk melihat agama bukan hanya sebagai ajaran ritual, tetapi juga sumber inspirasi dalam menjaga bumi dan memperkuat harmoni sosial.

Kegiatan yang digelar oleh Yayasan Pendidikan Nulondalo Lipuu bekerja sama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama (Balitbang Agama) Makassar dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo ini berlangsung di Kantor PWNU Gorontalo, Selasa (11/11). Mengusung tema “Ikhtiar Religius untuk Lingkungan dan Toleransi”, kegiatan tersebut diikuti oleh 30 penyuluh agama dari sembilan kecamatan di Kota Gorontalo.

Dalam sambutannya melalui zoom meeting, Kepala Kantor Kemenag Kota Gorontalo, Dr. Hj. Misnawaty Nuna, menegaskan pentingnya mengaitkan nilai-nilai keagamaan dengan persoalan lingkungan. Menurutnya, dua isu besar, ekologi dan moderasi beragama—tidak bisa dipisahkan karena sama-sama berangkat dari nilai rahmatan lil alamin, yaitu kasih dan keseimbangan bagi seluruh alam.

"Apa yang kita saksikan dilingkungan kita selama ini misalnya terjadinya kerusakan lingkungan banjir, longsor dan perubahan iklim ini tidak hanya masalah ekologi saja, tapi dia juga terkait dengan masalah teologi. Manusia sebagai khalifah di dunia dapat harusnya bisa menjaga harmoni ini", ujar Misna.

Sementara itu, Kepala Balai Litbang Agama Makassar, Saprillah menguraikan bahwa menjadi penyuluh bukan sekadar menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga menyebarkan nilai-nilai spiritual melalui lingkungan. Ia memperkenalkan empat pilar ecoteologi dan moderasi beragama, yakni: Komitmen Kebangsaan dan Lingkungan - mencintai tanah air dengan menjaga alam. Toleransi dan Lingkungan - memperkuat persaudaraan melalui aksi peduli lingkungan lintas agama. Anti Kekerasan dan Lingkungan – menolak kekerasan terhadap sesama makhluk, termasuk alam. Tradisi dan Lingkungan – menggali kearifan lokal untuk merawat keseimbangan ekosistem.

"Penyuluh agama bisa dibilang adalah ujung tombak dalam mengimplementasi dua isu besar; Ekoteologi dan Moderasi Beragama. Gagasan besar menteri agama hanya akan berhasil sampai ke masyarakat luas, apabila gagasan itu disebarkan secara aktif oleh penyuluh. Oleh karena itu, penyuluh harus memahami setiap konsep dan gagasan yang disampaikan oleh menteri agama" tutur Saprillah.

Senada dengan itu, Abdul Kadir Lawero, Ketua Yayasan Pendidikan Nulondalo Lipuu yang juga mewakili PWNU Gorontalo, menilai sarasehan ini sebagai langkah penting dalam “membumikan” isu ekologi dan moderasi beragama di tengah masyarakat.

Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi melahirkan rencana aksi nyata di tingkat kecamatan dan kelurahan, dengan melibatkan kolaborasi lintas agama untuk merespons krisis lingkungan.

Dalam sesi materi, Eka Putra B. Santoso, Ketua Lakpesdam PCNU Kota Gorontalo, mengajak peserta melihat moderasi beragama bukan dari sisi teori, tetapi praktik keseharian. Ia menekankan sembilan nilai penting, antara lain kemanusiaan, keadilan, kemaslahatan umum, toleransi, dan penghargaan terhadap tradisi—yang semuanya berakar pada cinta kepada sesama dan alam.

Ia juga menyoroti tiga nilai utama dalam moderasi beragama: nasionalisme, kemanusiaan, dan lingkungan. Eka menegaskan, tiga nilai ini menjadi fondasi moral yang menjaga bangsa tetap kuat, damai, dan berdaulat secara budaya maupun ekologis.

Sarasehan ini tidak berhenti pada diskusi. Peserta juga mengikuti sesi Iceberg Model dan Design Thinking untuk mengidentifikasi akar masalah lingkungan di wilayah mereka dan merancang solusi nyata.

Melalui rancangan aksi tersebut, para penyuluh berkomitmen untuk menjadikan dakwah lebih kontekstual—mengajarkan cinta tanah air dan cinta bumi secara bersamaan.

Kegiatan ditutup dengan refleksi bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Peserta diajak memahami bahwa kerukunan dan kelestarian alam tidak bisa dipisahkan; keduanya menjadi cermin iman yang hidup.

Melalui Sarasehan Ecoteologi dan Moderasi Beragama ini, para penyuluh agama di Gorontalo diharapkan menjadi pelopor gerakan religius yang ramah lingkungan—menghidupkan ajaran agama tidak hanya dalam doa, tetapi juga dalam tindakan nyata menjaga bumi dan harmoni sosial.

Editor: Nurul Fadillah
Fotografer: Istimewa
Leave a Comment