Masuk

Search

Travel Tips

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Lifestyle

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Hotel Review

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

🔔 Headline: Informasi terbaru akan selalu ditampilkan di sini • Update berita & pengumuman resmi • Selamat membaca

Subyek Yang Selalu Diabaikan

  • Share:
image
-

Setiap kali kita berbicara dalam ruang publik, kita cenderung tampil mewakili sesuatu—otoritas, kebenaran, bahkan kemanusiaan. Kita membentuk narasi, menyusun argumen, dan dengan penuh keyakinan menyampaikan bahwa kita tahu apa yang sedang kita bicarakan. Kita merasa sedang memperjuangkan sesuatu yang lebih besar dari diri kita. Tapi sering kali, dalam semua itu, ada satu hal yang kita lupakan: subyek yang sesungguhnya kita bicarakan.

Mari kita tengok satu kasus: kontroversi tentang siswa yang dibawa ke barak militer. Publik bereaksi. Media beropini. Pakar pendidikan bersuara. Aktivis mengkritik. Pemerintah memberi klarifikasi. Konten kreator mereaksi. Begitu banyak pihak berbicara. Tetapi di tengah hiruk-pikuk itu, saya nyaris tak melihat satu hal pun: anak-anak itu sendiri tidak pernah diberi ruang sebagai subyek. Tak ada yang bertanya, apa yang mereka alami? Apa yang mereka rasakan ketika dipanggil, digiring, dan diperlihatkan barak dengan seluruh simbol kedisiplinannya? Apakah mereka paham mengapa mereka di sana? Apakah mereka setuju?

Dalam debat publik kita, subyek justru kerap dihapuskan. Mereka direduksi menjadi data, menjadi objek kebijakan, menjadi dalih empati. Kita berbicara atas nama mereka, tapi jarang—sangat jarang—berbicara dari mereka, apalagi bersama mereka. Seolah mereka tidak cukup penting untuk memiliki suara sendiri dalam hal yang justru paling menyangkut hidup mereka.

Žižek pernah menyatakan bahwa ideologi yang paling berbahaya adalah yang justru tampak paling netral—yang menyamar sebagai kepedulian, sebagai kebenaran moral. Kita menyusun narasi, kebijakan, bahkan empati, tanpa sungguh-sungguh melihat subyek sebagai subyek. Kita berbicara tentang mereka, atas nama mereka, tetapi tidak bersama mereka. Subyek menjadi objek dalam sistem representasi: dibicarakan, diatur, dilatih—bukan berbicara.

Ini adalah bentuk nyata dari yang Zizek sebut sebagai fetishistic disavowal—kita tahu bahwa ada subyek, tetapi kita bertindak seolah mereka tidak ada. Kita tahu bahwa anak-anak itu punya pengalaman dan kesadaran, tetapi kita menutup telinga dengan dalih “kami tahu yang terbaik.”

Žižek mengingatkan bahwa kekuatan ideologi modern justru terletak pada bentuk kepedulian semu—ketika sistem kekuasaan tampil seolah-olah sedang membela yang lemah. Kita melihat bagaimana narasi tentang “pembinaan” anak-anak itu dikemas dalam bahasa tanggung jawab dan cinta: agar mereka disiplin, agar mereka kuat, agar mereka tidak salah arah. Namun seperti kata Žižek, “Sometimes, doing nothing is the most violent thing to do.” Karena dalam sikap pura-pura netral itu, kita justru mengukuhkan struktur yang menindas. Kita menyatakan kepedulian, tetapi diam-diam menempatkan anak-anak sebagai objek yang harus diperbaiki, bukan sebagai subyek yang didengarkan.

Di sisi lain, narasi tandingan pun muncul—yang menyebut pemindahan anak-anak ke barak militer sebagai pelanggaran hak anak, sebagai bentuk kekerasan struktural yang harus dihentikan. Tapi mari kita jujur: apakah di balik kemarahan itu, kita benar-benar sedang membela anak-anak? Atau jangan-jangan kita hanya sedang membela pikiran kita sendiri—nilai-nilai yang kita anggap benar, posisi politik kita, atau rasa benar moral yang perlu dipertahankan di depan publik? Žižek akan menyebut ini sebagai "obscene underside of ideology"—sisi gelap dari kepedulian, di mana kemarahan dan empati kita bukan muncul dari mendengar suara subyek, melainkan dari hasrat mempertahankan citra tentang siapa kita.

Kita berbicara seolah membela yang tertindas, tetapi tetap tidak memberi ruang bagi anak-anak itu untuk menyatakan diri mereka sendiri. Suara mereka hilang, baik dalam narasi kekuasaan maupun dalam narasi perlawanan. Mereka tetap menjadi “tentang siapa” kita bicara—bukan “siapa yang bicara.” Dan selama posisi itu tidak berubah, kita semua masih berada dalam pusaran ilusi: sibuk menyelamatkan subyek yang tak pernah kita izinkan untuk benar-benar hadir.

Di sinilah kita sering gagal memahami: bahwa subyek bukan hanya seseorang yang diberi hak bicara, tetapi seseorang yang diakui memiliki dunia batin, pikiran, dan keberadaan politik sendiri. Anak bukan hanya entitas yang perlu dilindungi; mereka adalah subyek yang layak didengar. Mereka bukan objek belas kasih atau target kebijakan. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang mampu mengalami dan memberi makna pada pengalaman mereka sendiri.

Kita bisa saja menyusun definisi tentang dunia—tentang pendidikan, disiplin, bahkan masa depan—tapi selama kita tidak melibatkan subyek sebagai subyek, semua itu hanya menjadi narasi kosong. Kita bicara tentang perubahan, tapi lupa menanyakan kepada mereka yang paling terdampak: apakah mereka ingin berubah, dan bagaimana?

Sudah saatnya kita menahan diri untuk tidak selalu menjadi komentator. Menjadi pendengar, bukan hanya simbolik, tetapi sungguh-sungguh. Bukan untuk mengganti narasi mereka dengan milik kita, tetapi untuk membuka ruang agar suara mereka membentuk ulang dunia yang kita kira sudah kita pahami.

Karena subyek yang paling diabaikan bisa jadi adalah satu-satunya yang seharusnya pertama kali kita dengarkan.

Editor: Nur Arisal
Fotografer: Suardi
Tags: