Travel Tips
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
Di suatu forum diskusi Moderasi Beragama, seorang peserta yang mengaku sebagai pengurus masjid bercerita. Ia pernah mendapatkan protes dari jamaah karena mengundang seorang khatib (kemudian didaulat menjadi imam) Salat Jumat yang tata cara ibadahnya berbeda dengan kebiasaan di masjid itu. Tidak ada yang salah secara syariat, katanya, hanya berbeda. Tapi perbedaan kecil itu cukup membuat sebagian jamaah merasa terganggu. Ia lalu bertanya: Apa yang harus saya lakukan?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan yang dalam. Mengapa sebuah perbedaan dalam keragaman praktik keislaman bisa menimbulkan penolakan? Mengapa masyarakat yang tampak rukun dan religius tidak siap menghadapi variasi yang sah dalam beribadah? Atau mengapa intoleransi muncul dalam masyarakat yang memegang nilai harmoni? Peserta tadi tidak sendirian. Ada banyak pengalaman serupa yang muncul dalam kehidupan sosial kita.
Saya percaya, ini bukan soal kebenaran-ansich. Ini soal kebiasaan sosial kita: kita tidak terbiasa hidup dengan perbedaan yang nyata. Kita lebih sering hidup dalam ruang-ruang sosial yang menyingkirkan yang berbeda—bukan dengan kekerasan, tapi dengan pengabaian.
Inilah mungkin sebabnya, kasus-kasus penolakan rumah ibadah banyak terjadi belakangan ini. Kita membangun suasana aman bukan dengan keterbukaan, melainkan dengan membatasi yang hadir di ruang bersama. Saya menyebut fenomena ini sebagai sosial in absensia—kehidupan sosial yang dibentuk dari absennya perbedaan sebagai pengalaman sehari-hari.
Kita mengklaim hidup dalam harmoni, tapi harmoni itu rapuh. Begitu ada sesuatu yang keluar dari pakem dominan, kita gelisah. Bahkan dalam konteks agama, di mana perbedaan seharusnya menjadi bagian dari kekayaan intelektual dan spiritual, kita justru lebih nyaman dengan keseragaman.
Barangkali kita keliru memahami harmoni sebagai kesamaan. Kita merasa tenang saat semua terlihat serupa, mengikuti arus mayoritas, tanpa suara yang berbeda. Kita menyebutnya “rukun”, padahal sering kali itu hanyalah ketenangan semu—hasil dari menghindari percakapan tentang perbedaan yang sebenarnya perlu dihadirkan.
Keseragaman semacam ini mudah retak. Ia tidak lahir dari pengertian, tapi dari tekanan untuk menyesuaikan diri. Karena perbedaan jarang diakui, kita pun tidak pernah belajar untuk hidup bersama dengannya. Maka ketika perbedaan muncul, bukan dialog yang terjadi, melainkan penolakan—karena kita belum punya ruang yang cukup lapang untuk menampungnya.
Saya teringat gagasan James C. Scott dalam Domination and the Arts of Resistance. Ia membedakan antara transkrip publik—narasi yang ditampilkan di ruang terbuka, dan transkrip tersembunyi—narasi yang disimpan dalam ruang privat. Transkrip publik sering dipenuhi dengan kesesuaian, persetujuan, dan kepatuhan; bukan karena masyarakat benar-benar setuju, tetapi karena tidak tersedia ruang untuk berbeda.
Dalam konteks kita, harmoni yang kita banggakan itu sering kali adalah transkrip publik yang disusun bersama: tenang, selaras, dan terkontrol. Tapi di baliknya, transkrip tersembunyi menyimpan banyak hal: keraguan, prasangka, bahkan ketakutan terhadap yang berbeda.
Kita pun membentuk pengetahuan bersama dari prinsip yang sama: pengetahuan dibangun dari persamaan, bukan dari perbedaan. Kurikulum pendidikan, khutbah keagamaan, dan narasi media jarang memberi ruang pada cara pandang alternatif yang tetap sah dalam bingkai kebenaran masing-masing. Maka ketika seseorang yang sedikit berbeda tampil ke depan, masyarakat kehilangan kerangka untuk memahaminya. Reaksi paling mudah adalah menolak.
Padahal, jika perbedaan sudah hadir sejak awal sebagai bagian dari hidup bersama, kita akan terbiasa memilah, memahami, dan menerima. Tapi karena selama ini perbedaan disingkirkan dari ruang publik, kita gagal mengenali wajahnya ketika ia datang dengan cara yang tak bisa lagi diabaikan.
Sosial in absensia adalah hidup bersama yang dibentuk bukan oleh kehadiran, tapi oleh absennya pengalaman hidup yang plural. Kita tidak belajar dari keberagaman, karena keberagaman disederhanakan. Kita tidak tahan melihat variasi, karena kita tidak pernah benar-benar hidup di dalamnya.
Dengan membiasakan perbedaan hadir dalam ruang ibadah, ruang pendidikan, ruang publik, kita bisa membangun harmoni yang kokoh—bukan sekadar ketenangan semu yang mudah runtuh. Perbedaan bukan gangguan, ia adalah kenyataan. Dan kenyataan tidak perlu dihindari—ia perlu dihadapi, dijalani, dan dihidupi