Masuk

Search

Travel Tips

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Lifestyle

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Hotel Review

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Selamat Datang di Website Resmi Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Seni Membangun Kerjasama Tim Ala Timnas Argentina

  • Share:
image
Property by ZI Team

Setiap kali Piala Dunia tiba, ada satu suasana yang selalu saya perhatikan. Jauh dari Buenos Aires, di banyak sudut Indonesia, jersey biru-putih tiba-tiba memenuhi pandangan. Bendera Argentina dikibarkan di sudut-sudut kampung dan kafe-kafe berubah jadi ruang bersama bagi orang-orang yang rela meluangkan waktu untuk menonton La Albiceleste.

Dukungan itu tidak pernah benar-benar reda. Di media sosial, suara-suara pendukung Argentina datang dari mana-mana. Di wilayah timur Indonesia, nonton bareng menjadi ritual yang akrab sorakan meledak saat bola masuk gawang, lalu terasa lebih emosional ketika terlihat pemain saling berpelukan setelah gol. Ketika kemenangan datang, euforianya makin memuncak seolah yang menang adalah tim nasional sendiri. Di tengah semua keramaian itu, yang paling sering membuat saya terdiam justru bukan skor akhirnya, melainkan harmony yang diatraksikan dari cara mereka bergerak sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.

Lalu, Apa yang Membuat Kerja Sama Mereka Terasa Seperti Seni?

Jawabannya, bagi saya, tidak hanya ada di papan skor. Seni membangun kerja sama ala Argentina bukan sekadar soal formasi atau instruksi pelatih. Tetapi soal cara mereka merawat rasa percaya bahwa satu pemain boleh bersinar, selama yang lain rela menjadi ruang tempat cahaya itu tumbuh.

Saya mengamati jejak itu mengalir lintas generasi. Ada masa ketika satu tokoh besar menjadi wajah utama, dari era Mario Kempes hingga Leonel Messi. Pada Piala Dunia 1978, wajah emas itu adalah Mario Kempes. Ia memang bersinar di final, tetapi momen epiknya baru lengkap ketika gerakan bersama membawa bola ke kaki Daniel Bertoni dan gelar dunia pertama Argentina terkunci dari situ. Delapan tahun kemudian, di Meksiko 1986, giliran Diego Maradona yang mencuri perhatian. Kejeniusannya memenuhi lapangan, namun kisah itu bertahan justru karena ia memercayakan detik penentu kepada Jorge Burruchaga. untuk mencetak gol yang menutup malam juara. Dari Kempes hingga Maradona, pelajarannya sederhana yakni bakat tanpa jalinan kerja sama akan mudah goyah, sementara kerja sama yang hidup bisa membuat bakat bertahan lebih lama bahkan melegenda.

Cerita tentang Argentina tidak pernah steril dari kegagalan. Mereka pernah merasakan pahitnya kekalahan di final Piala Dunia 1990 dan 2014. Messi berkali-kali gagal meraih trofi yang paling diimpikannya. Bahkan di Piala Dunia 2026 ini, Argentina dibuat kewalahan menghadapi perlawanan Tanjung Verde dan Mesir yang nyaris menghentikannya. Di saat-saat seperti itulah seni mereka tampak paling manusiawi ketika satu orang goyah, yang lain menahan dan ketika satu lini kewalahan, lini lain ikut menolong. Mereka bangkit bukan sebagai kumpulan nama, melainkan sebagai satu tubuh yang menolak menyerah.

Lalu, apa yang membuat tubuh itu tetap utuh ketika tekanan datang?

Pertanyaan itu membawa kita pada teori kerja sama tim yang sudah lama masyhur di dunia manajemen. Jon R. Katzenbach dan Douglas K. Smith, dalam The Wisdom of Teams, menegaskan bahwa tim sejati bukan sekadar kumpulan individu berbakat yang kebetulan memakai jersey sama. Tim yang solid punya tujuan bersama, keterampilan yang saling melengkapi, dan yang paling penting adalah memahami bahwa tanggung jawab dipegang bersama, bukan dilimpahkan pada satu individu saja. Karena itu, ketika skor terasa berat dan satu lini goyah, yang menentukan bukan hanya kejeniusan individu, melainkan apakah rekan-rekan lain siap menutup, mengangkat, dan memperbaiki keadaan bersama. Dibaca lewat lensa itu, cara Argentina bermain dan bangkit dari tekanan, terasa sangat relevan.

Bagaimana Seni Itu Diuji di Piala Dunia 2026?

Sebagai juara bertahan yang kembali memasuki panggung terbesar, Argentina tentu akan diuji lebih keras. Banyak tim datang dengan kualitas individu yang menakutkan. Namun ada satu hal yang sering sulit diukur oleh statistik yakni kematangan untuk tetap menjadi tim ketika tekanan memuncak. Seni kerja sama justru paling terlihat saat skor berimbang, saat napas pendek, saat satu kesalahan bisa mengubah segalanya.

Saya melihat peluang mereka tetap besar untuk melangkah jauh. Tantangannya jelas menjaga nyawa kolektivitas di tengah proses regenerasi dan ekspektasi yang tinggi. Tetapi jika kebiasaan saling percaya itu tetap hidup di dalam skuad, Argentina tidak hanya akan bermain sebagai unggulan. Mereka akan bermain sebagai sekolah terbuka tentang bagaimana keunggulan dibangun bersama.

Pada akhirnya, alasan saya mengagumi Argentina bukan semata-mata karena peluang mereka mengangkat trofi. Ada banyak tim hebat lain yang juga layak dikagumi. Namun Argentina selalu membawa sesuatu yang lebih dari sekadar sepak bola. Mereka menghadirkan kisah tentang kerja sama yang sabar, kesetiaan pada peran masing-masing dan keyakinan bahwa mimpi yang diperjuangkan bersama pada akhirnya punya peluang lebih besar untuk menjadi kenyataan.

Karena itu, ketika lagu kebangsaan berkumandang dan jersey biru-putih memasuki lapangan, yang saya tunggu bukan hanya gol. Saya menunggu gerakan-gerakan kecil yang sering luput dari sorotan. Pergerakan tanpa bola, umpan kedua, tepukan di punggung setelah salah tendang. Bersama jutaan penonton lainnya, saya ingin melihat kembali bagaimana La Albiceleste menulis The Wisdom of Teams di panggung terbesar sepak bola dunia.

Dan jika ada yang bertanya pelajaran apa yang paling ingin saya bawa dari Timnas Argentina pada Piala Dunia 2026, jawabannya sederhana: juara dilatih sendirian, tetapi kemenangan yang tahan lama hampir selalu dibangun bersama. (*)

Fahimtum? ... Fahimna
Argentitum? ... Argentina

Editor: -
Fotografer: -