Travel Tips
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
Makassar (BLA Makassar) -- Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Balai Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Agama Makassar menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Moderasi Beragama pada Komunitas dengan tema “Mind Mapping Moderasi Beragama” di Hotel Aryaduta Makassar, Jumat (18/7).
Kegiatan ini dihadiri oleh 38 peserta yang terdiri dari akademisi, tokoh agama, dan pegiat moderasi beragama. Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kemenag RI, Prof. Muhammad Ali Ramdhani, hadir langsung sekaligus membuka acara secara resmi.
Dalam arahannya, Prof. Muhammad Ali Ramdhani menekankan pentingnya kemampuan adaptasi terhadap perubahan sosial, politik, dan kebijakan yang dinamis.“Perubahan adalah satu-satunya hal yang pasti di dunia ini. Maka, kemampuan kita membaca dinamika zaman menjadi fundamental untuk mempertahankan eksistensi moderasi beragama di tengah masyarakat,” ujar Prof. Muhammad Ali Ramdhani.
Ia juga mengingatkan bahwa moderasi beragama adalah penguatan nilai-nilai luhur agama agar masyarakat lebih toleran, menjunjung kebersamaan, dan mampu menjaga harmoni dengan sesama, alam, serta Sang Pencipta.
“Moderasi beragama adalah cara menuju tujuan akhir kita, yaitu kerukunan. Metodenya bisa beragam, tetapi orientasinya harus jelas: membangun peradaban yang damai dan adil,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BLA Makassar, Saprillah, dalam laporannya menyampaikan, kegiatan ini sengaja melibatkan individu yang pernah berkontribusi pada program moderasi beragama. “Kita ingin menyusun mind mapping untuk melihat titik-titik strategis yang dapat diintervensi bersama agar moderasi beragama tetap relevan di tengah dinamika sosial-politik dan perubahan kebijakan,” ujarnya.
Selain penyampaian materi dari narasumber, kegiatan ini juga diisi dengan sesi diskusi yang berlangsung hangat. Para peserta tampak antusias berbagi pandangan dan pengalaman terkait tantangan moderasi beragama di tingkat masyarakat.
Salah satu peserta, Ibnu Azka dari UIN Alauddin Makassar, menyampaikan kesan dan pesannya usai mengikuti kegiatan tersebut. “Kegiatan ini membuka paradigma baru bagi kami, bagaimana gerakan moderasi harus terus dievaluasi agar lebih efektif ke depan. Narasi moderasi beragama harus dimasifkan hingga menjadi gerakan nyata yang membentuk penerimaan terhadap segala perbedaan,” ujarnya.
Melalui Sosialisasi Mind Mapping Moderasi Beragama ini, diharapkan tercipta sinergi antara pemerintah, tokoh agama, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga kerukunan dan harmoni di Indonesia.