Travel Tips
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
Makassar (BLA Makassar) -- Balai Litbang Agama Makassar mengadakan Kelas Intensif Semiotika Moderasi Beragama (KIS MB) selama dua hari, 23–24 Agustus 2025, di Aula Balai Litbang Agama Makassar. Kegiatan ini menghadirkan Kepala Balai Litbang Agama Makassar, Saprillah, sebagai narasumber utama, didampingi moderator Sari Damayanti serta fasilitator Asnandar.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Kepala Balai Litbang Agama Makassar, Saprillah, dengan moderator Sari Damayanti serta fasilitator Asnandar. Peserta terdiri dari alumni Orientasi Moderasi Beragama, aktivis, guru, dan tokoh agama dari berbagai komunitas budaya, di antaranya Sanggar Bolong, Asosiasi Penghulu, Asosiasi Duta Budaya Barru, UKM Seni Budaya Ihya ITBA Al-Gazali Barru, Balai Diklat Agama Makassar, serta guru-guru SMP Negeri di Barru. Kehadiran mereka memperkaya diskusi dengan perspektif lokal berbasis tradisi dan nilai budaya.
Dalam kelas ini, peserta diajak memahami semiotika sebagai pintu masuk untuk membaca realitas moderasi beragama. Materi yang dibahas menekankan pentingnya simbol, tanda, serta cara pandang dalam membentuk sikap beragama yang inklusif. Peserta juga diperkenalkan pada pendekatan dekonstruksi sebagai cara membongkar makna dominan dan membuka ruang interpretasi baru.
Kepala Balai Litbang Agama Makassar, Saprillah, dalam materinya mengajak peserta untuk merenungkan bagaimana sesuatu yang terkonsepkan dapat dibuktikan melalui realitas yang hidup di masyarakat. “Teori semiotika bukan hanya alat analisis, tapi juga cara kita membaca tanda dan denotasi, konotasi, dan mitos,” ujarnya.
Diskusi semakin menarik ketika peserta diajak untuk menguji sejauh mana teori semiotika dapat digunakan untuk memahami realitas sosial yang beragam. Hal ini menegaskan bahwa moderasi beragama bukanlah konsep tunggal, melainkan proses interpretasi yang berkembang sesuai dengan konteks sosial dan budaya.
Melalui kelas intensif ini, Balai Litbang Agama Makassar mendorong peserta untuk tidak hanya belajar tentang moderasi beragama secara teori, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hasil dari kegiatan ini diharapkan bisa menyesuaikan dengan tantangan sosial yang ada, serta membantu menjaga kehidupan beragama yang aman dan terbuka untuk semua.
Leave a Comment