Travel Tips
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
Gowa (BLA Makassar) -- Balai Litbang Agama Makassar menggagas cara baru dalam menumbuhkan pemahaman moderasi beragama melalui pendekatan yang lembut dan menyentuh: sastra religi. Kegiatan bertajuk Penguatan Literasi Moderasi Beragama Melalui Sastra Religi ini digelar pada Kamis, 30 Oktober 2025, di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gowa.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gowa, H. Jamaris, S.Ag., M.H., dan diikuti oleh 40 peserta dari unsur pejabat, guru bahasa dan sastra, serta penyuluh agama. Melalui kegiatan ini, peserta diajak melihat moderasi beragama dari perspektif sastra yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta antusias mengikuti setiap sesi yang memadukan nilai-nilai keagamaan dengan pendekatan sastra. Pendekatan ini menjadi cara baru dalam memahami dan menguatkan moderasi beragama tanpa kesan menggurui, melainkan menyentuh sisi emosional dan kemanusiaan.
Kepala Balai Litbang Agama Makassar yang juga sebagai narasumber, Saprillah, memaparkan bahwa kesadaran literasi berperan penting dalam menumbuhkan sikap moderat. Literasi, katanya, bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi juga memahami konteks dan sudut pandang orang lain. Melalui pemahaman ini, perbedaan tafsir agama dapat menjadi ruang dialog, bukan sumber konflik.
Ia menekankan bahwa seluruh peradaban besar lahir dari kekuatan literasi. Dalam konteks moderasi beragama, literasi membantu umat memahami makna agama secara lebih bijak, terbuka, dan berakar pada budaya. Sastra, lanjutnya, menjadi medium efektif untuk menanamkan nilai-nilai tersebut secara halus dan menyentuh.
Pendekatan sastra religi ini juga dianggap relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Di tengah derasnya arus informasi dan konten intoleran di media sosial, sastra dapat menjadi alat untuk menumbuhkan empati dan kesadaran bersama. Melalui cerita, masyarakat diajak memahami keberagaman tanpa harus merasa digurui. Kegiatan ini pun menegaskan bahwa literasi tidak sekadar membaca buku, tetapi juga kemampuan untuk mendengarkan, memahami, dan menafsirkan kehidupan dengan lebih bijak.
Melalui kegiatan ini, Balai Litbang Agama Makassar berharap peserta dapat mengembangkan narasi keagamaan yang damai dan inspiratif. Pendekatan sastra diharapkan menjadi jembatan antara pemahaman agama dan kebudayaan, memperkuat semangat toleransi serta memperluas makna moderasi beragama di tengah masyarakat Gowa.
Leave a Comment