Travel Tips
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
Parepare (BLA Makassar) -- Balai Litbang Agama Makassar kembali menunjukkan perannya dalam mendekatkan nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat melalui pendekatan yang tak biasa. Pada, Sabtu, 26 Juli 2025 bertempat di Gedung Panrita Perpustakaan Umum Kota Pare-Pare, kegiatan Bincang Buku Moderasi Beragama menghadirkan karya sastra Kyai Saleh 2: Dia yang Tak Tersandera Huruf sebagai medium reflektif dan edukatif bagi berbagai kalangan.
Acara yang dihadiri oleh lebih dari 40 peserta dari berbagai komunitas literasi, mahasiswa, dan organisasi masyarakat ini menjadi ruang dialog yang kaya dan penuh makna.
Dalam sambutannya, Saprillah, Kepala Balai Litbang Agama Makassar sekaligus penulis buku yang menggunakan nama pena Pepi Albayqunie, menekankan bahwa penyampaian pesan keagamaan perlu dilakukan dengan pendekatan yang kreatif. Ia melihat sastra sebagai salah satu metode yang efektif karena mampu menjangkau lebih banyak kalangan tanpa terjebak dalam kerumitan teori.
Ia juga menambahkan bahwa lembaga penelitian tidak hanya bertugas menuangkan kenyataan ke dalam bentuk laporan atau jurnal ilmiah, tetapi juga dapat menyampaikannya melalui karya sastra yang mampu menyentuh sisi emosional pembaca. Melalui pendekatan ini, nilai-nilai seperti moderasi beragama tidak hanya dipahami secara rasional, tetapi juga dapat dirasakan secara lebih mendalam.
Buku Kyai Saleh 2 lahir dari perjumpaan penulis dengan realitas sosial di kampung halamannya, Malangke, Luwu. Mengangkat pengalaman masa kecil, dinamika keislaman di desa, hingga perjumpaan dengan komunitas Calabai, penulis membentangkan tafsir keislaman yang inklusif dan membumi.
Dalam sesi diskusi, penulis membagikan latar belakang pemilihan tokoh Kyai Saleh sebagai simbol dari pemahaman agama yang tak kaku dan terbuka terhadap keberagaman. Ia menjelaskan bahwa proses menulis menjadi caranya menyalurkan kegelisahan batin, terutama sebagai bagian dari budaya bertutur yang hidup di kampung halamannya.
Sesi diskusi dalam kegiatan Bincang Buku Moderasi Beragama berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Peserta aktif menyampaikan pertanyaan dan pandangan kritis, mulai dari isu inklusivitas identitas gender dalam Islam, representasi tokoh Kyai Saleh, hingga peran perpustakaan dalam mendorong gerakan moderasi beragama. Muhammad Ihsan dari Soppeng, misalnya, menyoroti bagaimana komunitas calabai menciptakan narasi keagamaannya sendiri ketika tidak diakomodasi oleh wacana keagamaan arus utama. Sementara itu, Ita Munarti, seorang relawan baca buku, membandingkan tokoh Kyai Saleh dengan sosok jenaka Abunawas dan mempertanyakan kemungkinan karakter seperti ini diterima oleh anak-anak dalam pembelajaran agama. Di sisi lain, Hery, peserta lainnya, mengajak untuk melihat perpustakaan tidak hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang potensial untuk menumbuhkan nilai-nilai moderasi beragama secara lebih luas di masyarakat.
Menanggapi berbagai pandangan tersebut, penulis menjelaskan bahwa karya Kyai Saleh 2 lahir dari perjumpaan antara realitas sosial dan spiritualitas. Ia menekankan bahwa moderasi beragama merupakan suara sunyi mayoritas yang perlu terus dihidupkan melalui karya sastra, diskusi terbuka, dan refleksi bersama lintas latar belakang.
Sebagai penutup kegiatan, Kasubag TU Balai Litbang Agama Makassar, Andi Isra menyampaikan apresiasi atas tingginya antusiasme peserta selama diskusi berlangsung. Ia menyoroti pentingnya pendekatan yang menyentuh aspek emosional dalam menyampaikan nilai-nilai keagamaan. Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak hanya memperkaya wacana keagamaan, tetapi juga membuka ruang dialog lintas kelompok, yang diharapkan dapat memberikan dampak nyata dalam kehidupan sosial masyarakat.
Dengan semangat sastra, kegiatan ini berhasil menghadirkan wajah moderasi beragama yang lebih dekat, manusiawi, dan menyentuh lapisan terdalam dari realitas masyarakat. Kyai Saleh 2 bukan hanya buku, melainkan cermin bagi kita untuk memahami agama dalam konteks yang lebih luas dan inklusif.
Leave a Comment